Pages

Nama dan Sifat al-Quran

Kamis, Agustus 16, 2012

Selain disebut al-Quran, dalam penyebutannya di dalam al-Quran, Kalam Allah SWT ini juga disebut dengan nama al-Kitab, al-Furqân, al-Dzikr dan at-Tanzîl.

Disebut al-Kitab, karena al-Quran tidak lain adalah salah satu dari beberapa kitab yang diturunkan Allah SWT kepada sebagian Rasululullah SAW, seperti Zabur, Taurat dan Injil. Selain itu, Abu Syuhbah juga berpendapat bahwa kata “al-Kitab” adalah bentuk infinitif dari kata kataba yang artinya kumpulan dan gabungan. Dinamakan al-Kitab karena al-Quran adalah kumpulan dari berbagai ilmu, hikayat dan berita-berita yang paling lengkap. Penyabutan nama ini dapat kita lihat salah satunya dalam ayat al-Quran yang berbunyi (الحمد لله الذي أنزل علي عبده الكتاب ولم يجعل له عوجا). Sedangkan nama al-Furqân (pembeda) memiliki makna bahwa al-Quran adalah bembeda antara hal-hal yang haq untuk kita ikuti dan yang batil untuk kita tinggalkan. Menurut al-Zurqani, al-Quran disebut al-Furqan selain karena ia adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan, ia juga diturunkan secara terpencar antar bagian satu dengan lainnya (mufrūqan ba’dhuhu ba’dhan). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sebuah ayat (تبارك اذي أنز الفرقان علي عبده ليكون للعالمين نذيرا) "Maha suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Quran) kepada hamba-Nya (Muhammad)".[1] [2] Adapun penamaan al-Quran dengan nama al-Dzikr, Menurut Abu Syahbah, karena al-Quran mencakup ragam nasihat dan peringatan. Beberapa ulama lain berpendapat bahwa penamaan ini dikarenakan al-Quran mencakup berita-berita tentang nabi-nabi dan umat-umat terdahulu. Selain itu kata “al-Dzikr” juga bisa diartikan sebagai kemuliaan. Salah satu ayat yang menyebut al-Quran dengan nama al-Dzikr adalah, "Sesungguhnya kamilah yang menurunkan al-Dzikr (al-Quran) dan pasti kami pula yang memeliharanya" (إنا نحن نزلنا الذكري وإنا له لحافظون).[3] [4] Sedangkan nama yang terakhir adalah at-Tanzîl. Penamaan ini didasarkan atas ayat “Dan Sesungguhnya (al-Quran) ini benar-benar diturnkan oleh Tuhan semesta alam” (وإنه لتنزيل رب العالمين). [5] Menurut al-Zarkasyi, penamaan al-Quran dengan nama ini dikarenakan al-Quran adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah melalui perantara Malaikat Jibril.[6]

Itulah lima nama al-Quran yang paling masyhur. Adapun sebagian ulama yang berpendapat bahwa nama al-Quran lebih dari lima, seperti Imam Syaidalah dalam karyanya “al-Burhân fî Musykilâti al-Quran”, kemungkinan dikarenakan kekurang telitian karena sebagai besar yang disebut sebagai nama al-Quran itu pada hakikatnya adalah sifat al-Quran, bukan nama al-Quran.

Dari lima nama al-Quran di atas, nama “al-Quran” dan “Al-Kitab” paling sering disebut di dalam ayat-ayat al-Quran. Abdullah Darraz berpendapat, penamaan kitab ini dengan “al-Quran” dikarenakan al-Quran dibaca dengan mengunakan lisan. Sedangkan penamaan “Al-Kitab”, dikarenakan al-Quran dibukukan dan ditulis dengan pena. Dan di dalam penamaan al-Quran dengan dua nama tersebut memberikan isyarat, bahwa al-Quran harus dipelihara tidak hanya dalam hafalan saja. Tetapi juga harus dipelihara juga dari segi tulisannya (hifdzuhu fi as-sudur wa as-sutur).[7]

Selain memiliki nama yang beragam, di dalam al-Quran, Kalam Allah SWT ini juga banyak disifati dengan beragam sifat. Mannâ’ al-Qattân menyebutkan ada dua belas Sifat al-Quran yang tercatat dalam ayat-ayat al-Quran antara lain adalah cahaya (an-Nur),[8] pelajaran (mau'izah), penyembuh (syifâ'), petunjuk (hudan), rahmat (rahmah),[9] penjelas (mubîn),[10] berita gembira (busyrâ),[11] mulia ('azîz),[12] mulia (majîd),[13] kabar gembira (basyîr) dan peringatan (nazîr),[14] [15]. Akan tetapi pembagian Mannâ’ al-Qattân di atas kurang tepat, karena menggolongkan yang seharunya nama al-Quran kedalam sifat al-Quran, seperti cahaya (an-Nur). Kata an-Nur dalam ayat yang berbunyi (ياأيها الناس قد جاءكم برهان من ربكم وأنزلنا إليكم نورا مبينا) menunjukkan dzat yang dimaksudkan. Berbeda dengan sifat yang menunjukkan kriteria dan makna-makna tambahan.

__________________________

[1]. QS al-Furqân: 1
[2]. Abdul Adzim al-Zurqani, Manâhil al-Irfân fî Ulūm al-Qurân, jil. I, hal. 17
[3]. QS al-Hijr: 9
[4]. Muhammad Abû Syahbah, al-Madkhal li drasat al-Quran, hal. 22-23
[5]. QS asy-Syu'ara': 192
[6]. Badruddin al-Zarkasyi, al-Burhân fî Ulūm al-Qur’ân, (Kairo: Dâr al-Hadîs, 2006), hal. 197.
[7]. Manna' al-Qattan, Mabâhits fi Ulûmil Qurân, hal 17 .Lihat juga Abdullah Darraz, an-Naba’ al-‘Adzîm, (Doha, Dâr ats-Tsaqâfah, 1975) hal. 12. Lihat juga Subhi Al-Sholih, Mabâhits fi Ulûmil Qurân, hal. 17
[8]. Sifat ini didasarkan atas ayat QS an-Nisa: 174. Ayat ini berbunyi: "Wahai manusia! Sesungguhnya telah sampai kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu (Muhammad dan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benerang (al-Quran)" (ياأيها الناس قد جاءكم برهان من ربكم وأنزلنا إليكم نورا مبينا)
[9]. Sifat ke-2 sampai ke-5 didasarkan atas ayat QS Yûnus: 57. Ayat ini berbunyi, " Wahai manusia! Sunguh, telah datang kepadamu pelajaran (alQur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada di dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman" (ياأيها الناس قد جائتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين)
[10]. Sifat ini didasarkan atas ayat QS al-Mâ'idah: 15. Ayat ini berbunyi,"Sungguh telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan" (قد جاءكم نور وكتاب مبين)[11]. Sifat ini didasarkan atas ayat QS al-Baqarah: 97. Ayat ini berbunyiBarang siapa menjadi musuh jibril, maka (ketahuilah) bahwa dialah yang telah menurunkan (al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu, dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman".
(مصدقا لما بين يديه وهدى وبشرى للمؤمنين)
[12]. Sifat ini didasarkan atas ayat QS Fussilat: 41. Ayat ini berbunyi, "Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari al-Qur'an ketika (Al-Qur'an) itu disampaikan kepada mereka (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya (al-Quran) itu adalah kitab yang mulia
(إن الذين كفروا با الذكر لما جاءهم وإنه لكتاب عزيز)
[13]. Sifat ini didasarkan atas ayat QS al-Burûj: 21. Ayat ini berbunyi, "Bahkan (yang didustakan itu) ialah al-Qur'an yang mulia"
(بل هو قرآن مجيد في لوح محفوظ)
[14]. Dua sifa terakhir ini didasarkan atas ayat QS Fussilat: 3-4. Ayat ini berbunyi, "Kitab yang ayat-ayatnya dijelaskan, bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui. Yang membawa berita gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling (darinya) serta tidak mendengarkan"
(كتاب فصلت آياته قرآنا عربيا لقوم يعلمون. بشيرا ونذيرا)
[15]. Mannâ’ al-Qattân, Mabâhits fi Ulûmil Qurân, hal. 19

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Popular Posts

Buku Tamu

Flag Counter